Salah atu petani
Akibat pandemi Covid-19 masih berlangsung, banyak petani yang mengurangi produksi pertanian. Salah satunya Agus petani terong.F.TRI HARYONO/BATAMPOS

PRO KARIMUN – Dampak pandemi Covid-19 yang sudah berlansung selama setengah tahun ini, sangat terasa sekali bagi para petani yang ada dipulau Karimun ini. Sehingga, para petani mengurangi produksi beberapa komoditi palawija dilahan pertaniannya. Salah satunya, Sukarno yang sudah cukup lama menggeluti pertanian dengan memproduksi berbagai macam komoditi palawija.

” Cukup bertahan sajalah bang. Bisa lihat sendiri, kita tanam palawija banyak-banyak sekarang pembelinya tidak ada. Biaya produksi tetap jalan terus,” kata Sukarno, Selasa (8/9/2020).

Dirinya, sudah cukup lama mengeluti dunia pertanian berbagai komoditi palawija telah ditanam. Mulai dari terong, kacang panjang, ubi jalar, singkong, pisang dan sebagainya. Sehingga, dampak pandemi Covid-19 ini sangat terasa untuk bercocok tanah palawija yang hingga sekarang masih cukup menjanjikan pangsa pasarnya.

” Kendalanya, peralatan kita tidak punya. Untuk menggarap lahan, harus menyewa kraktor agar cepat bisa ditanam,” ungkapnya.

Sementara untuk kebutuhan pupuk maupun bibit sendiri, tidak ada kendala untuk mendapatkannya. Dan, untuk sementara ini hanya bisa dimanfaatkan bertanam pisang 40 hari maupun singkong yang bisa dipanen setiap hari untuk daunnya. Sehingga, bisa memasok komoditi palawija untuk dipulau Karimun.

” Sebenarnya, komoditi palawija masih kurang pasokannya di Karimun ini. Peluang untuk pertanian masih besar, tinggal bagaimana pemerintah daerah melakukan pembinaan kepada para petani disini,” harapnya.

Sedangkan, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Karimun Amirullah ketika dimintai tanggapannya mengungkapkan, para petani memang mengeluhkan daya beli masyarakat menurun. Bahkan, menjual secara murah terhadap komoditi palawijapun tidak mendongrak harga penjualan. Sehingga, biaya produksi tidak menutupi.

” Sekarang kendalanya, pembeli tidak ada. Makanya, mereka hanya menanam untuk bertahap operasional saja,” terangnya.

Sebab, lanjut Amirullah dari pemerintah sendiri bigung belum memberikan bantuan modal atau stimulus kepada para petani maupun nelayan. Sebab, untuk modal sendiri para petani masih ada, termasuk pupuk dan bibit harganya masih stabil.

” Saya sudah sampaikan kepada pemerintah daerah kendala para petani. Masalahnya, pembeli yang tidak ada. Artinya,daya beli masyarakat terjadi penurunan,” tegasnya.(tri)