Dalam proses New Normal atau tatanan nromal baru Covid-19, tidak berdampak terhadap pertumbuhan hunian hotel. Bahkan, bulan Juli ini satu hotel berbintang tutup sementara operasionalnya. F. Tri Haryono/Batam Pos

PRO KARIMUN – Dampak pandemi Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 yang sudah berlangsung empat bulan ini dan kini memasuki New Normal atau tatanan normal baru Covid-19, namun untuk dunia perhotelan di kabupaten Karimun tidak berpengaruh terhadap perkembangan dunia perhotelan. Buktinya, belum lama ini satu hotel berbintang terpaksa menutup operasionalnya untuk sementara.

”Saya sudah prediksi dari kemarin, tidak ada pengaruhnya terhadap new normal Covid-19 yang sudah berjalan kurang lebih satu bulan. Buktinya, satu hotel berbintang bulan ini sudah tutup operasional dan hingga sekarang tingkat hunian hotel sangat sedikit,” kata Ketua Badan Pimpinan Cabang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPC-PHRI) Karimun Khaidir, Rabu (8/7/2020).

Walaupun, saat ini ada beberapa hotel yang mencoba buka kembali hotel. Dengan harapan, proses tatanan normal baru Covid-19 ada perkembangan hunian hotel. Namun, ternyata salah dugaan dari para pemilik hotel tidak terjadi penambahan hunian hotel. Sehingga, tidak tertutup kemungkinan akan berhenti operasional nantinya.

”Kemarin, (Sebelum New Normal-red) sudah 17 hotel dan penginapan yang berhenti operasional. Nah, memang ada beberapa hotel yang sudah beroperasi tapi tetap mereka mengeluh,” terangnya.

Masih kata Khaidir lagi, seperti salah satu hotel yang buka. Mereka mengungkapkan, bahwa beroperasinya hotel tersebut dikarenakan ada beberapa perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja dari luar daerah. Tenaga kerja tersebut, wajib diisolasi secara mandiri sebelum tinggal di mes dan mulai bekerja diperusahaan. Artinya, perusahaan tersebut telah merekrut tenaga kerja harus melakukan isolasi mandiri dahulu.

”Jadi hotel tersebut, beroperasi dikarenakan ada tenaga kerja yang melakukan isolasi mandiri selama dua pekan saja. Habis itu, tenaga kerja tersebut tidak tinggal di hotel lagi, itu yang saya dapat informasi sementara,” ungkapnya.

Sedangkan, ditanya bagaimana program pemerintah daerah dalam meningkatkan kunjungan wisatawan sebagai bentuk untuk meningkatkan hunian hotel di kabupaten Karimun. Pihaknya, sudah ada rapat bersama Dinas Pariwisata Karimun hanya menyampaikan pedoman terhadap aktivitas usaha kepariwisataan mulai hotel, penginapan, homestay, asrama dan sejenisnya. Seperti, menyediakan alat pengecekan suhu, cuci tangan, pemasangan rambu-rambu jaga jarak dan sebagainya.

”Kalau dilihat, tim gugus tugas dipelabuhan terlalu ketat. Artinya, pengunjung yang datang ke Karimun prosedurnya sangat ketat sampai- sampai harus meninggalkan identitas diri dan meminta jaminan dari pihak dituju,” ujarnya.

Sehingga, sangat berdampak terhadap tingkat hunian hotel disini. Disisi lain, bagus apa yang dilakukan tim gugus tugas tapi perlu diingat. Saat ini kita memasuki New Normal, sebagai proses pemulihan ekonomi disemua sektor. Sehingga, harus ada perubahan pelayanan penerimaan dan ada kelonggaran dalam proses pemeriksaan dipelabuhan.

”Ya, berikan kelonggaran bagi pengunjung yang ingin menginap di Karimun. Mereka, datang biasanya untuk berbisnis atau pertemuan dengan pihak perusahaan. Biasanya, rata-rata pegawai swasta yang berurusan dengan pihak perusahaan maupun pemerintah daerah,” harapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karimun Sensissiana ketika dikonfirmasi Batam Pos mengatakan, pihaknya sudah mengeluarkan Surat Edaran (SE) nomor 431.2/DISPARBUD/116/VII/2020 tentang pemulihan aktivitas pelaku usaha kepariwisataan yang dilakukan pada masa pandemi Covid-19. Dimana, berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI no HK.01.07/MENKES/382/2020 Tentang Protokol Kesehatan bagi masyarakat ditempat dan fasilitas umum serta pemulihan aktivitas pelaku usaha kepariwisatan bersama BPC PHRI
Karimun belum lama ini.

”Kita saat ini sedang melakukan sosialisasi tentang protokol kesehatan yang harus ketat diterapkan bagi pelaku usaha kepariwisataan. Mulai dari pariwisata, tempat-tempat objek wisata yang wajib taat aturan pemerintah,” jawabnya.

Pantauan dilapangan, aktivitas beberapa hotel yang ada dibilangan kota Tanjungbalai Karimun terlihat sepi tidak ada terparkir kendaraan yang biasanya ramai lalu lalang kendaraan roda empat yang parkir di halaman hotel.

” Maaf bang kami tidak terima tamu,” ucap salah seorang karyawan hotel.(tri)