foto.imam sukarno
Gedung pasar Mutiara Tanjungbatu Kundur

PRO KARIMUN – Pasar Mutiara Tanjungbatu telah diresmikan penggunakannya oleh Bupati Aunur Rafiq tiga pekan lalu. Meski sejumlah lapak, dan kios sudah ditempati pedagang, namun masih menyisakan persoalan mendasar.

Dengan keterbatasan aliran listrik sebagai sarana penerangan yang tidak tersedia, pedagang tetap melaksanakan aktivitas berjualan. Begitu pula ketersediaan air bersih, belum sepenuhnya tercukupi.

Lebih miris, lokasi pasar malam yang menjajakan makanan serta minuman juga berdebu. Sehingga sejumlah warga menilai peresmian Pasar Mutiara seperti dipaksakan. Padahal sarana dan prasaran utama belum tersedia.

“Kalau memang belum sepenuhi layak untuk ditempati, lebih baik ditunda peresmian pasarnya. Kasihan pedagang, kepanasan karena tidak ada listrik, dan air bersih,” papar seorang warga.

Kepala Unit Pasar Mutiara Perusda Karimun H.Maksum, tidak membantah saat peresmian Pasar Mutiara masih belum tersedia listrik dan air bersih.

“Iya saat diresmikan sampai sekarang, untuk penerangan masih dibantu tenaga diesel, karena belum sepenuhnya dari PLN. Sementara air bersih, sudah ada sumur bornya, namun airnya asin. Masalah air yang asin sudah saya sampaikan pihak kontraktor, kalau listrik semoga dalam waktu dekat sudah beres,” kata Maksum, Kamis (20/2/2020).

Selain dua masalah tadi, Maksum pun tidak menafikan Pasar Malam (akaw) yang kondisinya berdebu. Karena selesai dibangun belum ada pembersihan, sementara pedagang sudah pindah ke lokasi yang baru.

“Terkait masalah debu, kita sudah disampaikan ke pihak kontraktor. Tapi untuk sementara kita akan mencoba membersihkan dengan air. Pastinya, karena gedung baru tentu perlu adaptasi dan pembenahan beberapa hal,” tegas Maksum.

Terkait ketersediaan listrik, Bupati Karimun, Aunur Rafiq sudah meminta kepada PLN segera melakukan pemasangan. Hal itu dikarenakan masalah listrik menjadi penerangan utama bagi pedagang saat memulai beraktifitas di pasar. (ims)