PRO KARIMUN – Harga cabai merah di Karimun yang sebelumnya sempat mencapai Rp 100 ribu per kilogram (kg), kini turun drastis menjadi Rp 35 ribu per kg. Namun, untuk sejumlah komoditas bahan pangan harganya masih normal dengan pasokan yang masih mencukupi sesu-ai kebutuhan masyarakat.

”Alhamdulillah, untuk harga cabai merah sudah turun, kembali normal sediakala. Begitu juga, komoditi sembako lainnya masih dalam relatif terjangkau bagi masyarakat,’’ jelas Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, UKM dan ESDM Karimun, M Yosli, kepada Batam Pos di ruang kerjanya, Jumat (29/11/2019).

Yosli mengatakan untuk pasokan beras, masih mencukupi stoknya hingga pergantian tahun nanti. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu khawatir dengan kebutuhan sembako di Karimun. Sebab, pihaknya terus memantau dan berkoordinasi dengan distributor dan Bulog untuk memenuhi kebutuhan sembako.

Uni salah seorang pedagang di Pasar Puan Maimun saat melayani pembeli cabai merah. f.tri haryono

”Walaupun, kapal roro belum beroperasi dari Buton. Kita masih ada kapal barang yang mengangkut sembako dari Riau maupun Sumatera. Selain itu, dari Batam dan Tanjungpinang tetap masuk ke Karimun melalui roro,’’ ungkapnya.

Menurut Yosli, terjadinya penurunan harga cabai merah dipengaruhi banyaknya pasokan cabai merah di pasaran. Selain dari luar daerah, juga saat ini para petani cabai panen cabai merah yang cukup banyak.

”Sangat terbantu oleh peta-ni di sini, lumayan mereka menanam cabai merah cukup banyak beberapa bulan lalu. Dan, sekarang panen cukup berlimpah,’’ imbuhnya.

Pantauan di Pasar Puan Maimun, untuk bawang putih Rp 30 ribu per kg, bawang merah Rp 35 ribu per kg, cabai merah R p35 ribu per kg, dan cabai hijau Rp 25 ribu per kg.

Harga ayam ras Rp 31 ribu per kg, daging sapi segar Rp 170 ribu per kg, daging beku Rp 80 ribu per kg, beras premium Rp13.500 per kg, gula pasir Rp13 ribu per kg, minyak goreng curah Rp12 ribu per kg.

”Cabai merah sudah turun. Kalau komoditi lainnya, biasa saja masih ada. Sepi dari pembeli, kita harap hari libur seperti Sabtu dan Minggu sajalah,’’ keluh Bujang, pe-dagang sayuran. (try)