PRO KARIMUN – Fasilitas umum (fasum) atau taman ramah anak tidak kunjung dibangun di Kabupaten Karimun. Padahal Kabupaten Karimun sudah dua kali mendapatkan penghargaan sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA) kategori Pratama. Namun, predikat Kabupaten Karimun sebagai KLA tersebut mendapatkan kritikan dari pemerhati anak Karimun Raja Zurantiaz.

Sebab, menurut dia, hingga sekarang Kabupaten Karimun sendiri belum mampu membangun fasum ruang atau taman yang ramah anak. Artinya, fasum tersebut diperuntukan untuk anak-anak bermain yang benar-benar nyaman bagi anak secara gratis.

”Kalau untuk syarat mendapatkan KLA betul. Salah satunya, hak atas identitas berupa akta kelahiran, pencegahan perkawinan anak, dan menggerakan peran serta dunia usaha, media dan masyarakat dalam perlindungan anak. Tapi, perlu diingat taman untuk bermain anak mana yang benar-benar layak sampai sekarang belum terbangun,’’ terangnya, Minggu (25/8).

Kenapa demikian, di berbagai daerah kabupaten atau kota lainnya sebelum mereka mendapatkan penghargaan sebagai kabupaten atau kota layak anak sudah membangun fasum yang ramah anak untuk anak bermain secara gratis.

”Saya setuju kita dapat KLA. Tapi, tidak hanya predikat saja. Mana, tanggungjawab pemerintah daerah dalam hal membangun taman bermain anak,” kata Zuriantiaz.

Nah, rata-rata yang mempunyai ruang bermain anak adalah sekolah atau lembaga pendidikan kanak-kanak, maupun perkantoran, puskesmas, dan instansi lainnya yang telah tersedia. ”Itupun, harus bayar untuk bermain bagi anak-anak itu sendiri,’’ ujarnya.

Warga bersama anaknya sedang bersantai di taman rekreasi depan RSUD M Sani belum lama ini.
foto: batampos.co.id / tri haryono

Masih kata Zurantiaz, seharusnya pemerintah daerah dari tahun lalu sudah wajib membangun fasum ramah anak melalui alokasi APBD Kabupaten Karimun yang mencapai Rp1,2 triliun bahkan tahun ini Rp1,3 triliun lebih. Minimal, satu kecamatan mempunyai satu taman bermain anak. Artinya, fasum bermain anak yang betul-betul dikelola oleh pemerintah daerah sudah terealisasi bukan dibangun taman-taman untuk remaja.

”Kalau di depan RSUD M Sani ada taman tapi bukan khusus untuk bermain anak. Itu taman rekreasi bagi masyarakat umum. Jangan salah arti ya, tempat bermain anak itu harus ada permainan pendukung anak seperti bola, seluncuran yang benar-benar bisa dinikmati oleh anak itu sendiri dan aman,’’ tegasnya.

Sebab, tempat-tempat fasum yang dimiliki pemerintah daerah cukup banyak. Seperti di Coastal Area, salah satunya gedung KECC yang terbiarkan begitu saja hingga bertahun-tahun. Dapat dimanfaatkan untuk taman bermain anak secara gratis, dengan syarat publik harus benar-benar dijaga fasilitas tersebut.

”Jangan kamuflase saja, hanya untuk mendapatkan predikat KLA. Apalagi, di depan mata kita masih terdapat anak-anak di bawah umur yang melakukan kejahatan maupun yang suka minta-minta. Bahkan, baru-baru ini terjadi eksploitasi terhadap anak-anak untuk dimanfaatkan mencuri,’’ katanya lagi.

Di tempat terpisah, Bupati Karimun Aunur Rafiq mengatakan, untuk KLA ada beberapa indikator untuk penilaian. Seperti, di kantor bupati sudah dipersiapkan dan kantor dinas-dinas lainnya yang sudah disiapkan dan sebagainya. Maka, indikator-indikator penilaian apa saja yang sudah maupun kurang untuk meningkatkan predikat KLA lebih tinggi lagi.

”Kita akan melihat kemampuan keuangan daerah, untuk membangun fasilitas umum khusus untuk anak nanti. Semuanya, akan bertahap untuk didorong lebih baik lagi dalam perbaikan-perbaikan penunjang permainan anak di tempat umum,’’ jawabnya.

Sementara itu pantauan di lapangan, baik di taman rekrasi depan RSUD M Sani, fasum untuk bermain banyak yang rusak. Adapun, tidak bisa dipergunakan untuk bermain anak. Selain itu di Coastal Area banyak permainan anak, namun publik harus merogoh kocek untuk anaknya bermain dikala malam hari.

”Nggak mahal sih, hanya Rp10 ribu sekali main mobil-mobilan. Di sini banyak, pecahan keramik yang sangat berbahaya bagi anak-anak bermain,’’ ucap Solema warga Karimun.(tri)

Loading...