Plt Gubernur Kepri, Isdianto berbincang dengan Owner PT MOS, Hartono do Dela kunjungan kerja, Tabu (14/8/2019). f.ichwanul fazmi

PRO KARIMUN – Plt Gubernur Kepri, Isdianto melakukan kunjungan kerja ke Karimun, Rabu (13/8) kemarin. Kedatangan Isdianto didampingi Sekdaprov, TS Arif Fadillah, Bupati Karim un, Aunur Rafiq, dan rombongan, meninjau empat lokasi shipyard di Bumi Berazam.

PT Karimun Marine Shipyard (KMS), merupakan lokasi pertama yang dikunjungi. Tragedi ledakan KMP Sembilang yang menewaskan tiga pekerja, dan melukai delapan orang saat perbaikan, menjadi atensi Isdianto.

Dengan melihat langsung kondisi di lokasi, Isdianto mengaku bisa mengetahui apa yang menjadi permasalahan. Di antaranya menyangkut kinerja tenaga kerja, dan perlindungan keselamatan kerja.

“Perlindungan, dan keselamatan kerja harus menjadi perhatian serius. Jika perusahaan sudah menerapkan standar operasional sesuai ketentuan, niscaya tragedi kecelakaan kerja bisa diminimalisir,” ujar Isdianto.

Pada kesempatan itu, Isdianto sempat berbincang sekaligus memberikan bantuan kepada keluarga salah seorang pekerja dalam tragedi ledakan KMP Sembilang belum lama ini.

“Hendaknya dapat diterima, dan bermanfaat,” ucap Isdianto.

Selain itu, Isdianto juga mengingatkan kepada Dinas Tenaga Kerja agar memperhatikan nasib pekerja yang mengalami musibah.

“Alhamdulillah, semua hak-hak pekerja yang mengalami musibah sudah dipenuhi. Termasuk didaftarkan di BPJS,” kata Isdianto setelah mendapat penjelasan dari pengawas di Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kepri.

Usai kunjungan me PT KMS, rombongan langsung menijau ke PT Multy Ocean Shipyard (MOS). Di perusahaan yang bersebelahan dengan PT KMS ini, lagi-lagi Isdianto meminta perusahaan memperhatikan keselamatan pekerja.

“Pekerja adalah aset bagi perusahaan. Jangan sampai diabaikan, sehingga berpotensi menimbulkan gejolak seperti demo. Kondisi ini yang perlu dijaga,” pesan Isdianto kepada owner PT MOS, Hartono.

Selain itu, Isdianto juga meminta toleransi perusahaan terkait pekerja yang terlambat masuk lantaran kehujanan. Begitu juga dengan yang sakit, hendaknya tidak langsung dipotong gajinya.

“Rata-rata pekerja menggunakan motor. Kalau hari hujan, tentu harus menunggu reda baru bisa masuk. Nah, keterlambatan ini janganlah langsung main potong penghasilannya. Tapi ada batas toleransinya,” tegas Isdianto.

Owner PT MOS, Hartono mengaku pusing jika ada pekerja yang tidak masuk. Termasuk yang beralasan sakit.

“Jujur Pak, malah kita yang pusing kepala kalau ada pekerja yang tidak masuk. Tentu yang tak masuk punya alasan, tapi kita juga mau tahu apakah alasannya bisa diterima atau tidak,” tutur Hartono.

Dikatakan Hartono, perusahaan dilindungi peraturan. Namun begitu, dirinya siap memberikan batas tolerir bagi pekerja yang terlambat dengan alasan bisa diterima.

“Nanti kita kasih waktu, batas-batas keterlambatan yang bisa ditolerir,” janji Hartono.

Pastinya, Isdianto meminta perusahaan shipyard ikut membantu pemerintah melalui program kerja secara jelas. Termasuk kebutuhan pekerja harus terpenuhi sesuai undang-undang yang berlaku.

“Kalau perlu, tata tertib perusahaan di tempel di pintu masuk perusahaan,” kata Isdianto.

Selanjutnya, rombongan menuju PT Saipem, dan PT Karimun Sembawang Shipyard. (enl)