Warga Moro menerima gas elpiji 3 kg belum lama ini. Namun, minyak tanah masih dibutuhkan karena program konversi ke gas elpiji 3 kg belum merata.
foto: batampos.co.id / imam soekarno

batampos.co.id – Warga Kecamatan Moro mengaku kelimpungan pasca ditariknya minyak tanah (mitan) subsidi per 1 Juli 2019. Tidak hanya warga, pengecer juga sudah mencoba mendatangi Agen Premium Minyak dan Solar (APMS), namun gagal mendapatkan minyak tanah.

Padahal masyarakat Moro masih membutuhkan minyak tanah untuk memasak dan keperluan lainnya. Di sisi lain, program konversi mitan ke gas elpiji 3 kg dinilai belum maksimal.

”Bagi saya, program konversi minyak tanah ke gas, tak maksimal. Mengapa? Karena, minyak tanah sudah ditarik, tapi pembagian gas dan kompor belum merata,” keluh warga, M Isa, Senin (5/8/2019).

Bagi mayoritas masyarakat Moro yang bermata pencaharian sebagai nelayan, minyak tanah sudah merupakan kebutuhan dasar. Terlebih secara geografis, Kecamatan Moro terdiri yang dari ratusan pulau dinilai akan sulit jika diterapkan program konversi tersebut.

”Bagi kami, maunya pemerintah tidak menarik 100 persen peredaran minyak tanah di Kecamatan Moro. Biarpun harganya nonsubsidi, yang penting minyak tanah tetap tersedia. Kalau sudah begini, kami terpaksa gunakan kayu untuk masak,” papar Isa.

Sementara, salah seorang APMS di Moro, Said Lukman mengaku, minyak tanah sudah tidak masuk per Juli lalu. Sebelum konversi, jatah kuota minyak tanah untuk APMS diterima sebanyak 35 ton. Setelah konversi, jatahnya berkurang menjadi 17 ton.

”Sejak bulan Juli, tidak ada lagi kuota untuk mi-nyak tanah karena memang sudah ditarik. Tapi nyatanya, masih banyak masyarakat yang bertanya mengapa minyak tanah hilang,” papar Said.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, UKM, dan ESDM, M Yosli menegaskan, kuota minyak tanah untuk Kabupaten Karimun sudah dihapus sejak Juli lalu. Penarikan minyak tanah karena memang merupakan program dari pusat.

Namun sebagai gantinya, pemerintah menyiapkan minyak tanah keekonomian (nonsubsidi). Dan untuk mendapatkan minyak tanah keekonomian, APMS bisa langsung membelinya ke Pertamina dengan harga yang cukup mahal.

”Yang jelas, kami segera mengumpulkan APMS untuk menanyakan kesanggupan membeli mi-nyak tanah keekonomian. Karena harganya bisa mencapai Rp14 ribu per liter. Untuk membelinya, bisa langsung ke Pertamina,” beber Yosli. (ims)