Richardo didampingi kuasa hukumnya, James Sumihar Sibarani, saat membuat laporan di Mapolres Karimun.
foto: dokumen richardo

PRO KARIMUN – Richardo, 26, karyawan Hotel di Karimun melaporkan bosnya sendiri, BL, ke polisi atas dugaan penganiayaan dan perampasan. Ia juga mengaku mengalami trauma atas dugaan penganiayaan tersebut.

Richardo bertutur, kasus itu bermula ketika ia mengetahui adanya kecurangan di arena permainan judi pingpong di hotel tempatnya bekerja. Rupanya, kata dia, kecurangan itu melibatkan BL.

Pasalnya, beberapa waktu sebelumnya mesin judi pingpong itu tidak menghasilkan untung dan malah membuat sang majikan merugi. Akhirnya, sambung Richardo, BL mengakali teknis permainan dengan cara mengganti nomor bola tanpa sepengetahuan para pemain. Praktik itu berjalan hampir satu bulan lamanya.

Richardo yang mengetahui praktik culas itu kemudian merekamnya. Namun, saat merekam untuk ketiga kalinya, aksi Richardo diketahui oleh anak buah BL yang lain, AY, dan dilaporkan pada BL.

Pada Minggu (14/7) lalu, Richardo diminta datang ke lantai empat hotel tersebut dan sudah ditunggu oleh BL, adik kandung BL yakni ML, dan karyawan yang melaporkan Richardo, AY.

”Ketiga orang itu memukul saya, ada sekitar 10 pukulan. Saya juga disuruh telanjang dan difoto, serta diancam untuk dibunuh menggunakan sebilah pisau,” ujar Richardo didampingi ibunya Tio Sioe Boi saat menggelar jumpa pers di Kantor Advokad James Sumihar Sibarani Dkk di Batam Center, Sabtu (27/7).

Dalam waktu bersamaan, ibu kandung Richardo menyusul ke hotel. Sang ibu khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada buah hatinya.

”Waktu itu pukul 22.00, karena ibu khawatir dia menyusul ke hotel tempat saya bekerja,” kata Richardo.

Selang beberapa menit, Richardo berhasil kabur saat ada kesempatan dengan cara pamit hendak ke toilet. Tapi, ketiga orang tersebut tidak membiarkan Richardo melarikan diri, mereka terus mengejar. Namun, Richardo akhirnya bisa lolos dan naik ojek menuju Polres Karimun.

Sesaat sebelum membuat laporan polisi, BL kembali datang bersama adik dan karyawannya tadi, juga bersama ibu Richardo. BL kembali mengancamnya dan meminta Richardo menyerahkan bukti rekaman tersebut. Karena ibunya diancam, Richardo luluh dan menyerahkan bukti serta mengurungkan niatnya untuk melaporkan kejadian penganiayaan itu ke polisi.

Esok paginya, Richardo dan ibunya pilih mengamankan diri ke Singapura karena merasa terancam dan trauma.

”Setelah kejadian itu saya tidak bisa tidur,” kata mantan mahasiswa Universitas Putera Batam tersebut.

Pada Rabu (24/7), Richardo kembali dari Singapura ke Batam. Di Batam, ia mendatangi pengacara James untuk meminta bantuan hukum. Tepat pada Jumat (26/7), Richardo melaporkan kejadian itu ke Polres Karimun.

Pengacara Richardo, James Sumihar Sibarani mengatakan sudah melaporkan tiga orang yang diduga sebagai penganiaya Richardo yakni BL, ML, dan AY. ”Mungkin tiga atau empat hari lagi mereka diperiksa,” kata James.

Pelaku dilaporkan telah melakukan pengeroyokan dengan pasal 170, penganiayaan 351, serta perampasan 368 KUHP.

”Dengan laporan ini, kita selaku kuasa hukum berharap pihak kepolisian untuk menegakkan keadilan supaya diproses sesuai hukum yang berlaku,” kata dia.

James juga mengatakan, sampai saat ini Richardo masih memiliki rasa trauma atas kejadian yang menimpa kliennya tersebut. (gie)

Loading...