batampos.co.id – Kondisi gedung yang berada di Coastal Area, Hall A dan Hall B kini cukup memprihatikan. Mulai dari atap yang sudah lepas. Lantai yang berada di tengah lapangan juga hancur.

Selain itu, fasilitas umum seperti kamar mandi juga ba-nyak yang tidak berfungsi. Belum lagi, bangunan yang berada di bawah Hall A dan B tidak beraturan, sehingga terkesan kumuh.

“Memang kemarin ada usulan dari pihak eksekutif, untuk dilakukan renovasi kawasan Coastal Area secara keseluruhan. Tapi, kita lihat kondisi keuangan,’’ jawab Ketua DPRD Karimun M Yusuf Sirat, Selasa (16/7).

Apabila kondisi keuangan tidak memungkinkan, kata Yusuf, akan diprioritaskan pada anggaran 2020 mendatang bersamaan dengan Stadion Badang Perkasa yang perlu renovasi juga. Sehingga, fasi-litas umum tersebut nantinya bisa dimanfaatkan publik lebih baik lagi.

“Insya Allah, tahun depan lah. Tergantung dari pihak eksekutif, apakah ada anggarannya atau tidak. Kita tunggu aja nanti saat pengajuan APBD 2020,’’ tegasnya.


Kondisi Coastal Area yang butuh revitalisasi menyeluruh, Selasa (16/7/2019).

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, UKM dan ESDM Karimun M Yosli menyatakan bahwa pihaknya sebagai pengelola Coastal Area telah mengusulkan untuk direnovasi atau revitalisasi untuk gedung Hall A dan B termasuk panggung Putri Kemuning secara keseluruhan. Dimana, sejak dibangun sekitar 15 tahun lalu belum ada perbaikan secara menyeluruh.

“Kalau hasil perhitungan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) diperkirakan menelan dana sekitar Rp 5 miliar keseluruhan. Anda bisa lihat sendiri kondisinya. Apalagi empat mena-ra, sudah tidak diperbolehkan untuk naik bagi pengunjung,’’ terangnya.

Pantauan di lapangan, kondisi kedua gedung dan panggung rakyat cukup memprihatinkan dan perlu dilakukan perbaikan secara menyeluruh. Terutama, tata letak para pedagang yang berada di bawah gedung Hall A dan Hall B perlu dilakukan penataan ulang dengan mempersiapkan tempat jualan yang representatif.

Sehingga, dapat memberikan kenyamanan bagi pengunjung maupun pedagang itu sendiri yang secara otomatis bisa meningkatkan ekonomi kerak-yatan. Pembangunan Coastal Area yang dibangun pada 2007 silam secara keseluruhan, memakan biaya sekitar Rp 172,9 miliar.

“Tempatnya cukup strategis. Sayang, tidak tertata apik oleh pemerintah daerah,’’ kata Santi, warga Batam yang berkunjung ke Karimun. (try)