Diki Hermawan, siswa MI saat menjuarai cabor atletik O2SN tingkat kecamatan tapi tak bisa berlaga di tingkat kabupaten.
foto imam sukarno

batampos.co.id – Sejumlah pelajar Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kecmatan Kundur merasa dianaktirikan setiap gelaran Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN). Pasalnya, pelajar MI yang berprestasi di bidang olahraga tidak pernah dilirik atau bisa diikutsertakan di kegiatan tersebut.

Sebaliknya, O2SN di tingkat kecamatan, siswa MI selalu ambil bagian. Namun memasuki fase ke tingkat kabupaten, mereka tersingkirkan.

Loading...

Keluhan siswa MI disampaikan melalui seorang guru olahraga MIN 3 Karimun, Venky Kusriadi. Dikatakan, banyak atlet berbakat, dan berprestasi di tingkat MI, namun mereka tidak bisa bertanding pada O2SN tingkat Kabupaten Karimun.

Kondisi itu jelas membuat sejumlah guru olahraga MI merasa prihatin, karena atlet berprestasi harus terhenti, dan tidak mendapatkan ruang yang luas. Semua itu disebabkan adanya kebijakan yang kurang bijak oleh pemangku kebijakan tersebut.

“Selama ini belum ada sarana yang memberikan ruang pada atlet Madrasah untuk mengikuti gelaran setingkat O2SN. Untuk itu kami berharap ada kebijakan ataupun kerjasama (MoU) antara Kemenag dengan Dinas Pendidikan sehingga atlet MI bisa mengikuti gelaran O2SN tingkat Kabupaten Karimun,” harap Venky, Rabu (23/1/2019) kemarin.

Venky mencontohkan Diki Hermawan, siswa MI Nurul Islam yang juara lomba atletik. Namun yang bersangkutan tidak bisa mengikuti O2SN di Karimun, alasannya sekolah mereka di bawah Kemenag, dan tidak bergabung dengan Dinas Pendidikan.

“Hak mereka (siswa, red), seperti dirampas begitu saja oleh kebijakan yang seharusnya bisa dicarikan solusi. Sehingga siswa tadi bisa terus mengukir prestasi hingga ke tingkat yang lebih tinggi lagi,” papar Venky.

Di sisi lain, Venky menyampaikan terimakasih kepada Kelompok Kerja Guru Olahraga (KKGO) Kecamatan Kundur yang telah mengikut sertakan pelajar MI dalam perlombaan olahraga belum lama ini. Meskipun sadar sekolah MI tidak bergabung dengan dinas pendidikan, namun KKGO memberikan kesempatan pada atlet dari pelajar madrasah.

“Kami harapkan pemangku kebijakan memberikan solusi sehingga hak anak-anak tidak terampas begitu saja,” tukasnya.

Diki Hermawan, siswa MI saat menjuarai cabor atletik O2SN tingkat kecamatan tapi tak bisa berlaga di tingkat kabupaten.
foto imam sukarno
Loading...