foto.Tri Haryono/Nelayan tradisional di Kecamatan Tebing saat menambatkan kapalnya.

batampos.co.id – Pemeritah Kabupaten Karimun segera merealisasikan konversi minyak tanah ke gas elpiji tiga kilogram bagi 45.587 rumah tangga, dan usaha mikro. Imbasnya, akan terjadi pengurangan kuota minyak tanah yang dampaknya dirasakan sekali para nelayan yang rata-rata membutuhkan minyak tanah untuk operasional di laut.

“Saya mewakili nelayan tradisional berharap, minyak tanah tetap ada bagi nelayan tradisional dengan kapal 5 GT. Karena, ketergantungan minyak tanah sangat penting bagi nelayan tradisional,” ungkap Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Karimun, Amirullah, Selasa (4/12).

Program konversi minyak tanah ke gas elpiji diakui cukup bagus. Namun disisi lain, nelayan tradisional merasa khawatir minyak tanah akan sulit didapat ketika konversi sudah berjalan.

“Jelasnya, kompor minyak tanah masih dipergunakan saat melaut. Termasuk bahan bakar minyak kapal yang masih ada dilakukan campur dengan minyak tanah,” ungkap Amirullah seraya menyebutkan, nelayan tradisional di Kabupaten Karimun mencapai 10 ribuan orang.

Sedangkan Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, UKM dan ESDM Karimun Muhammad Yosli mengatakan, para nelayan tradisional tidak termasuk dalam penerima tabung elpiji bersubsidi. Jadi jangan khawatir tidak mendapatkan minyak tanah nantinya.

“Minyak tanah subsidi tidak ditarik sekaligus, tapi secara bertahap nantinya. Dan minyak tanah non subsidi tetap ada di Karimun,” tuturnya.

Pantauan di lapangan, aktivitas nelayan tradisional tetap seperti biasa melakukan pekerjaannya untuk mempersiapkan kapal-kapal berlayar mencari ikan diseputaran Pulau Karimun. (tri)