Pasar seken pun sepi.
foto: batampos.co.id / tri

batampos.co.id – Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Karimun turun drastis sejak beberapa tahun belakangan. Dampaknya cukup terasa bagi seluruh pelaku usaha mulai dari properti, kuliner, hingga kos-kosan. Kondisi diperparah dengan nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar yang sekarang mencapai Rp15 ribu per 1 dolar Amerika.

Sedangkan, dolar Singapura juga mengikuti nilai tukar rupiah menjadi Rp 11 ribu lebih.

”Susahlah sekarang, kita jualan pakaian seken. Barang ada tapi sudah tidak sesuai, harga-nya mahal akibat dolar naik,” keluh salah seorang pedagang pakaian seken di Tanjungbalai Karimun, Pakwo, Senin (22/10).

Dengan demikian, berdampak terhadap penjualan yang hanya berharap di akhir pekan.

Selain itu barang seken juga terbatas, yang saat ini hanya cukup bisa bertahan hidup supaya tidak gulung tikar. Sedangkan, untuk peminat barang seken hingga sekarang masih tetap ada, namun dibandingkan beberapa tahun lalu sangat turun drastis.

”Peminat masih ada, cuma mereka tidak seperti bia-sanya belanja. Terbatas, paling satu atau dua jenis saja yang dibeli. Harganya pun kita hanya pas-pas saja itupun masih ditawar,” keluhnya.

Hal senada juga diungkapkan Jhon. Kalau untuk penjualan barang seken sudah tidak dapat diharapkan.

Untuk menyiasatinya, dia menyediakan barang baru dengan terbatas. Dia berharap kepada Pemerintah Daerah Karimun, agar mencarikan jalan keluar lesunya ekonomi di Karimun.

”Sudah hampir tiga tahun, ekonomi Karimun lesu. Hingga sekarang terobosan dari pemerintah tidak ada untuk melakukan pergerakan ekonomi,” ungkap Jhon.

Pantauan di pasar seken terlihat sepi. Pedagang asyik merapikan dagangan, sambil menunggu pengunjung. Berbagai jenis pakaian, sepatu, gorden, alas kursi, seprei dan sebagainya dipajang.

”Beli dua sepatu saja buat anak-anak jalan-jalan. Lumayanlah, bagus-bagus, cuman harganya agak mahal diban-dingkan beberapa tahun lalu,” ujar Adi, pengunjung. (tri)