Danlantamal IV berdialog dengan kapten kapal.
foto: batampos.co.id / sandi

batampos.co.id – Tim Fleet One Quick Response (F1QR) IV Lanal Tanjungbalai Karimun mengamankan MV Jolly Rover GT 97 berbendera Mongolia. Kapal jenis motor vessel ini ditangkap karena melakukan transhipment atau transfer barang di perairan Indonesia.

Kini kapal yang memuat cat merek Hempel Hardner dan merek Sigma Hardner, kaleng tiner, tali trost, dan cat semprot ini dibawa ke dermaga Lanal Tanjungbalai Karimun untuk diproses hukum lebih lanjut. Jumlah pasti muatan masih dilakukan penghitungan.

”Diperkirakan muatan yang juga tidak ada manifest ini mempunyai nilai sekitar Rp 1 miliar,” tegas Danlantamal IV Laksamana Pertama Ribut Eko Suyatno, Senin (22/10).

Ia mengatakan, penangkapan tersebut berawal ketika Kapal Patroli Keamanan Laut (Patkamla) Combat Boat sedang berpatroli rutin di perairan Takong Iyu.

”Saat itu kami menemukan aktivitas mencurigakan, terjadi transfer barang di wilayah hukum Indonesia,” katanya.

Saat didatangi petugas, salah satu kapal jenis tanker yang menyuplai barang ke Kapal MV Jolly Rover melarikan diri. Kini keberadaannya masih dilakukan pengejaran petugas.

Sementara Kapal MV Jolly Rover GT tidak bisa menunjukkan dokumen yang sah saat dilakukan pemeriksaan.

”Mereka tidak bisa menunjukkan surat persetujuan berlayar (SPB), dokumen tentang muatan barang, hingga daftar kru dan sijil,” bebernya.

Karena melanggar Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2008 Pelayaran, petugas mengamankan empat orang anak buah kapal (ABK) WNI termasuk nahkoda beserta barang buktinya.

”Kasus ini akan diproses sesuai dengan UU yang berlaku,’’ tegas mantan Danlanal Batam ini.

Danlantamal menjelaskan, Ka­pal Jolly Rover yang berla­yar dari Singapura menuju west outside port limit (OPL).

”Sean­dainya kegiatan tersebut dilaku­kan di luar perairan Indonesia, maka hal itu sah-sah saja. Karena melakukan aktivitas di perairan Indonesia tanpa izin, kita tindak,” bebernya.

Menurut Danlantamal, bila ingin melakukan aktivitas di perairan Indonesia, pihak kapa­l ha­rusnya memberitahukan ke­pada Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).

”Karena, setiap ke­giatan di laut Indonesia haru­s dilaporkan ke agen yang di­tun­­juk dan melakukan pemba­yaran ke kas negara,’’ pap­arnya.

Sementara itu, Ahmad selaku Nakhoda MV Jolly Rover menyebutkan, apa yang dilakukannya bersama tiga orang kru kapal merupakan perintah dari agen.

’’Hai Hap Wat yang merupakan agen kapal ini sudah memerintahkan kami untuk mengangkut barang. Jadi, apa yang kami lakukan hanya perintah dari agen saja. Kegiatan ini sendiri baru pertama saya lakukan,’’ ungkapnya.  (san)